Teater dan perubahan sosial

“Teater bukan sekadar pertunjukkan dengan fungsi estetika semata. Teater juga berkaitan dengan komunitas sosial yang berada di luar dunia seni.  Melibatkan diri dalam kegiatan seni teater, adalah kesediaan untuk belajar bertanggung jawab dan disiplin, mengasah kepekaan sosial dan menjadi agensi budaya bagi masyarakat sekelilingnya”

Fungsi sosial seni sudah menjadi perhatian masyarakat sejak beberapa dekade yang lalu. Pada awalnya, karya seni hanyalah untuk seni, seperti ungkapan dalam bahasa Prancis, l’art pour l’art. Namun demikian, dalam perkembangannya, dunia seni tidak berdiri sendiri. Karya seni juga terkait dengan komunitas sosial yang berada di luar dunia seni. Keterkaitan ini digambarkan oleh Bourriaud (2002) sebagai estetika relasional. Estetika relasional inilah yang memperkuat fungsi sosial seni, yaitu dunia seni mampu menggugah kesadaran sosial pekerja seni dan masyarakat, serta membentuk agensi budaya mereka yang terlibat.

Estetika relasional inilah yang memperkuat fungsi sosial seni, yaitu dunia seni mampu menggugah kesadaran sosial pekerja seni dan masyarakat, serta membentuk agensi budaya mereka yang terlibat.

Khusus untuk seni teater, beberapa kajian yang dilakukan juga menunjukkan fungsi sosial seni teater, seperti yang diungkapkan McKenna (2014) bahwa teater dapat digunakan untuk membawa perubahan sosial; Ahmed dan Hughes (2015) memaparkan bahwa teater juga berfungsi dalam membentuk perkembangan sosial di masyarakat; serta Dutta (2015) menjelaskan bahwa teater juga dapat digunakan sebagai sarana untuk memberdayakan masyarakat, khususnya kaum perempuan. Ketiga kajian tersebut menunjukkan bahwa fungsi sosial teater diperkuat oleh estetika relasional, yang mampu menjadikan teater sebagai satu community-based art (seni berbasis masyarakat).

Sebagai community-based art, selain berfungsi sebagai hiburan, teater juga berfungsi sebagai alat refleksi, transformasi, dan edukasi, selain wahana berekspresi (Boal, 1979).

Teater juga dapat berfungsi sebagai wahana pembentuk agensi budaya masyarakat (dalam hal ini partisipan). Agensi budaya yang dimaksud adalah upaya secara bersama-sama dan melibatkan elemen masyarakat di luar komunitas seni untuk membangun perubahan yang positif bagi masyarakat.

Artikel : Hari Nugroho

 

Comments

VIDEONESIA CHANNEL