Bila tak dikelola, surplus tenaga kerja mengancam Indonesia

Dewasa ini, Indonesia mengalami surplus sumber daya manusia usia produktif.  Merujuk pada Badan Pusat Statistik (BPS) kelompok usia produktif terbagi menjadi dua kategori, yakni Usia Sangat Produktif dengan rentang usia 15 tahun hingga 49 tahun dan Usia Produktif dengan rentang usia 50 hingga 64 tahun.  Pengertian usia produktif, menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) adalah penduduk yang karena usia, kondisi fisik dan jenis pekerjaannya dapat menghasilkan produk baik berupa barang maupun jasa.

Pada tahun 2016, BPS melansir bahwa jumlah penduduk Indonesia sebanyak 258 juta jiwa. Populasi penduduk Indonesia ini, menurut BPS, didominasi oleh penduduk dengan usia 15 hingga 34 tahun. Kondisi ini, disebut era Bonus Demografi yakni era kelebihan penduduk yang dapat dimanfatkan untuk membangun negara. BPS memperkirakan, era Bonus Demografi ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2025-2030. Era ini, apabila dikelola secara optimal, niscaya Indonesia akan menjemput masa keemasan pada masa yang akan datang. Namun sebaliknya, bila tidak dikelola secara baik, Indonesia akan memperpanjang masa keterpurukan.

 Kondisi ini, disebut era Bonus Demografi yakni era kelebihan penduduk yang dapat dimanfatkan untuk membangun negara.

Namun, bagaimana kondisi SDM di Indonesia saat ini? Harus diakui, bahwa kualitas SDM di Indonesia saat ini masih belum cukup memiliki kualitas yang memadai baik dalam penguasaan keterampilan maupun kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual. Konon, kondisi inilah yang menyebabkan kurang tertariknya investor untuk membuat lapangan kerja. Sayangnya, negara sendiri belum memberikan lapangan kerja yang cukup bagi penduduk usia produktif ini. Sementara itu, masih banyak pemuda yang berharap pada sektor formal dengan berharap mendapat pekerjaan sebagai pegawai negeri, menjadi karyawan perusahaan atau pabrik, atau sektor-sektor lain yang menempatkan dirinya menjadi karyawan, meskipun jumlah antara kebutuhan tenaga kerja dan jumlah tenaga kerja tidak sebanding. Dengan kata lain, pengangguran di Indonesia masih tinggi.

Sudah selayaknya golongan usia sangat produktif mendapat perhatian dalam kondisi seperti ini. Mendidik dengan pendidikan yang baik akan mempersiapkan mereka sebagai tenaga kerja yang mampu bersaing di bursa lapangan kerja.  Tetapi yang tak kalah pentingnya adalah, mempersiapkan ketrampilan dan mengenalkan dunia entrepreneurship sejak awal, menjadi langkah yang strategis dalam mengatasi angka pengangguran. Mengenalkan beberapa bidang pekerjaan atau profesi yang barangkali belum pernah terdengar, tentu akan membuka wawasan tentang arti kata “pekerjaan”.

Artikel : Hari Nugroho
Photo source : pratamasite.blogspot.com

 

 

Comments

VIDEONESIA CHANNEL