Merari, tradisi menculik anak gadis

Pemuda warga Dusun Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat, akan menculik gadis yang ingin dinikahinya. Keesokan harinya, ia akan mengirim utusan untuk menemui orang tua sang gadis bahwa anaknya telah diculik oleh sang pemuda. Datangnya utusan ke rumah oran tua gadis, otomatis menjadi penanda bahwa anak gadis telah dilamar oleh pemuda penculik.

Oleh : Hari Nugroho

Menculik gadis sebelum dinikahi, adalah adat Suku Sasak, suku yang mendiami Pulau Lombok. Tradisi ini dipertahankan hingga kini oleh warga Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Puju, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tradisi menculik gadis sebelum dinikahi, disebut merari. “Keluarga dari pihak perempuan justru akan merasa diremehkan bila pihak lelaki melamar dengan cara membawa keluarga lelaki menemui keluarga pihak perempuan”, jelas Usman, warga Dusun Sade.  Tradisi ini, kata Usman, sudah dilakukan Suku Sasak secara turun temurun sejak lebih dari 900 tahun yang lalu, atau setidaknya telah dilakukan oleh sekitar 15 generasi.

Pintu gerbang dusun Sade, Lombok

Menurut adat suku Sasak, seorang gadis yang diculik kekasihnya, harus segera dinikahkan. karena peristiwa tersebut sudah diketahui seluruh masyarakat desa atau dikenal sebagai “nyelabar”.

Karena itu, tak lama setelah peristiwa penculikan itu, kedua pihak keluarga melangsungkan adat selabar, mesejati, dan mbait wali. Adat ini dimaksudkan sebagai upacara permintaan izin pernikahan dari keluarga laki-laki ke keluarga perempuan.

Ketiga proses ini dapat berlangsung hingga tiga hari.  Dalam upacara mbait wali pihak laki-laki dan perempuan melakukan pembicaraan jumlah uang pisuka atau jaminan dan mahar. Setelah semua disepakati oleh kedua keluarga, pernikahan dilakukan dengan cara Islam dengan mengucapkan ijab qabul.

“Selama proses pelarian atau penculikan, laki-laki dan perempuan tidak boleh melakukan perbuatan tercela. Mereka baru diperbolehkan berhubungan suami istri setelah ijab qabul diucapkan,” jelas Usman.

Akhir dari upacara pernikahan adalah proses nyongkolan, yakni mengantar kedua mempelai menuju rumah orang tua mempelai perempuan. Setelah semua upacara selesai dilaksanakan, kedua pasangan disediakan rumah berukuran kecil untuk berbulan madu. Rumah itu disebut balai kodong.

“Rumahnya dibuat sangat kecil, sehingga hanya mereka berdua yang dapat saling memandang,” jelas Usman.

Tradisi ini, lanjut Usman, sebenarnya memiliki nilai atau kearifan tersendiri. “Menculik anak gadis, bukan sekedar simbol kejantanan lelaki, tetapi juga menguji kemurnian cinta si lelaki sehingga ia berani menculik”, kata Usman memaparkan.

Selain itu, lanjut Usman, tradisi ini membawa pesan bahwa dengan berani menculik anak gadis berarti sanggup menghidupi. Bagi sang gadis, juga diuji kesetiaannya untuk mengikuti calon suami saat menjalani kehidupan rumah tangga nanti.

Konon, tradisi merari ini berawal dari cerita kuno tentang seorang raja yang memiliki putri sangat cantik. Banyak lelaki tergila-gila pada anak raja itu. Raja itu kemudian membangun sebuah kamar yang dijaga dengan sangat ketat.

Ia lalu membuat sayembara bahwa siapapun yang berhasil menculik putrinya, dia lah yang akan dinikahkan dengan sang putri.

Anak gadis Suku Sasak dusun Sade

Denda adat bila terjadi perselisihan

Tradisi merari ini juga memiliki aturan main agar kerukunan warga tetap terjaga. Aturan main itu adalah denda pati, yakni denda yang ditanggung lelaki penculik dan keluarganya apabila penculikan dapat dilakukan tetapi menimbulkan perselisihan.

Penculikan yang dilakukan tidak melalui persetujuan sang gadis atau penculik memaksa sehingga penculikan gagal dan menimbulkan keributan, akan didenda secara adat disebut ngurayang.

Bila keributan terjadi karena penculikan digagalkan saingan lelaki penculik maka adat akan menerapkan denda adat ngeberayang. Sedangkan bila prose’s penculikan dilakukan tidak sesuai dengan tata cara misalnya dilakukan siang hari, sehingga menimbulkan keributan, maka adat akan menerapkan denda yang disebut ngabesaken. *

Artikel dimuat di SUARA edisi Januari Mid 2018, terbit 19 Januari 2018

Versi online Suara : http://www.suara.com.hk/feature_post/merari-adat-menculik-anak-gadis/

Comments

VIDEONESIA CHANNEL